Ironi tinggal di Utah, daerah gersang yang dekat dengan Nevada (Bukan yang sebenarnya).

Sebagian besar dari orang berteriak karena memiliki digit yang minim ketika bekerja, sebaliknya mereka yang berdigit banyak tak bersuara dan lebih banyak fokus menghabiskannya, ada yang melakukan hobinya, menginvestasikan uangnya, atau bersenang-senang dengan pasangan tak resmi (asumsi).



Bagi saya yang bergaul dengan pengusaha, melihat perilaku mereka yang kerap terlihat nggak masuk akal tapi ya memang ada. Bekerja keras dengan banyak hal yang dipertimbangkan terutama bagaimana meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Sebagian besar memiliki kepercayaan tertentu dalam mendapatkan keuntungan dengan selalu menahan hal-hal yang banyak mudhorotnya.

Tapi sayang sebagian kecil merahasiakan hal yang gak masuk akal kepada karyawannya. Bagi industri yang paling dekat dengan wilayah kami cara kerja para pengusaha sangat begitu bisa kami tebak, jika dia berkawan dengan penguasa wilayah maka akan lancar-lancar saja seakan peraturan hanya berlaku bagi mereka yang berseberangan.

Bayangkan saja truk dengan tonase besar begitu lenggang bergerak di jam-jam berangkat dan pulang sekolah, jangan tanya berapa korbannya karena sebagian banyak suaranya ditutup dengan uang kompensasi yang habis setelah proses 40 harian. Mau bagaimana lagi jika kami protes maka yang didapat hanyalah radang tenggorokan karena pita suara habis kebanyakan teriak.

Para pemuda dengan nurut menerima recehan dari usahanya yang angka pendapatannya lebih dari 9 digit. Kita juga tak mendapat kesempatan untuk mengembangkan skills yang sifatnya membangun, selain jualan sertifikat ala lembaga sertifikasi negara. Dengan iming-iming naik gaji kami terpaksa melakukan sertifikasi yang tak berguna.

kami menyadari adanya pemikiran kerja bukan merupakan tempat belajar tertanam begitu dalam di sistem limbik pemuda potensial, saya membayangkan di 2045 nanti akan banyak menelurkan karyawan bernuansa RRC.

RRC negara yang tidak demokratis tapi menjadi acuan kita sebagai bangsa yang berasaskan dari rakyat untuk rakyat, bukan dari rakyat untuk pengusaha (pemerintah). Tidak bisa menutup mata bahwa usaha tak bisa dilepaskan dari faktor politik, bagaimana amerika dengan kekuatan politiknya kepada dunia mulai terancam dengan datangnya tiongkok sebagai pesaing utama.



Kelompok-kelompok yang berkedok ingin menelurkan pengusaha rasanya tak begitu tulus mengajarkan bagaimana caranya berusaha, apalagi pengajarnya adalah pengusaha berbasis MLM. Bukannya bermanfaat tapi malah membawa ke pusaran angin puting beliung yang kelamaan akan mengecil.

Paradigma kemanfaatan perlu kiranya ditanamkan ke dalam sistem limbik calon pengusaha. Misalnya dengan teganya memberikan upah rendah kepada mereka yang tak tau apa apa. Sulitnya mencari pekerjaan disinyalir menjadi dalang mengapa perusahaan kaya memberikan upah rendah. “Jika tak mau ikut saya silahkan pulang ke rumah”, agak lucu tapi gapapa.

Semoga pembaca mendapatkan insight dari suatu proses kehidupan kami yang memiliki UMP tertinggi di salah satu provinsi di amerika sana.

 

 

 

 

Post a Comment

0 Comments