Seiring waktu, perspektif tentang cinta dan berpasangan tidak lagi sesederhana yang dituliskan di buku-buku. Semakin dewasa usia seseorang, semakin terlihat bahwa relasi bukan hanya soal perasaan, tetapi tentang kapasitas—kapasitas emosional, mental, dan tanggung jawab. Banyak dinamika yang tidak pernah dibahas secara jujur, padahal justru itulah yang paling menentukan keberlangsungan sebuah hubungan.
Henry Manampiring pernah menegaskan bahwa tidak semua orang dianugerahi bakat untuk menjalin hubungan yang sehat. Pernyataan ini terdengar provokatif, tetapi masuk akal. Jika bakat akademik, seni, atau kepemimpinan saja tidak dimiliki semua orang, mengapa kita menganggap semua individu otomatis siap dan mampu berkeluarga? Maka menunda pernikahan bukanlah kegagalan moral, melainkan keputusan rasional untuk sesuatu yang lebih baik.
Fakta sosial memperkuat hal ini. Angka perceraian terus meningkat, dan status duda atau janda di usia muda bukan lagi sesuatu yang langka. Di balik status tersebut sering tersembunyi masalah serius: kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, konflik keluarga besar, hingga persoalan ekonomi yang tak pernah benar-benar disiapkan. Dalam beberapa kasus terbaru, perceraian dipicu oleh kecanduan judi, hutang berlapis, dan konflik berkepanjangan yang akhirnya bermuara di pengadilan agama. Ini bukan kisah langka—ini pola yang berulang.
Masalahnya bukan semata pada satu pihak. Konsumsi impulsif, penggunaan paylater tanpa kontrol, serta keputusan finansial tanpa komunikasi sering menjadi bom waktu dalam rumah tangga muda.
Konflik bukan muncul karena belanja atau penghasilan semata, melainkan karena ketidakmampuan mengelola batas, ekspektasi, dan tanggung jawab bersama. Ketika masalah membesar, keluarga besar ikut terseret, dan tuding-menuding menjadi hal yang tak terhindarkan.
Ada pula kisah pemuda yang menikah dengan keyakinan penuh bahwa pilihannya benar, namun mengabaikan satu hal krusial: intervensi eksternal. Campur tangan keluarga yang berlebihan, aturan yang tidak diminta, dan tekanan sosial menciptakan stres yang perlahan menggerogoti hubungan.
Pernikahan yang seharusnya menjadi ruang aman justru berubah menjadi medan konflik tanpa henti.
Di luar itu, terdapat pemaksaan yang lebih halus namun sama berbahayanya: menjadikan anak sebagai investasi masa tua. Dalih “nanti ada yang merawat” sering digunakan untuk menekan anak agar segera menikah. Kalimat seperti “ndang rabi, supoyo pas tuo onok sing ngeramut” menjadi beban psikologis bagi generasi usia 20-an, yang seharusnya masih berada pada fase pengembangan diri.
Keputusan hidup akhirnya diambil bukan berdasarkan kesiapan, melainkan rasa takut mengecewakan orang tua.
Tekanan juga datang dari konstruksi sosial terhadap perempuan. Narasi usia krusial 25–30 tahun, ancaman menopause, hingga stigma “tidak terpakai” menciptakan kecemasan kolektif. Dampaknya, pasangan ditekan untuk mempercepat segala hal: target finansial dipaksakan, hutang diambil, karier dipertaruhkan, bahkan resign dilakukan secara tergesa-gesa. Ada yang mengambil cicilan kendaraan tanpa perhitungan matang, lalu terjebak dalam siklus penagihan yang berulang. Kisah-kisah semacam ini bukan sekadar cerita pinggiran—ia adalah gejala sistemik.
Kesimpulannya jelas: menikah adalah keputusan besar yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan. Karena itu, persiapan tidak bisa hanya berbasis niat baik. Ia menuntut pengetahuan, komunikasi, dan kesadaran posisi—berada di titik mana secara emosional, finansial, dan mental. Pernikahan bukan proyek individual, melainkan keputusan bersama yang menuntut kesiapan dari kedua belah pihak.
Saat ini, akses terhadap pembelajaran pra-nikah terbuka luas. Yang perlu dilakukan adalah kejujuran pada diri sendiri: apa yang bisa dikembangkan, apa yang masih bisa ditoleransi, dan apa yang harus dihilangkan. Perlu disadari bahwa kemampuan setiap orang berbeda, termasuk dalam hal berpasangan dan berkeluarga.
Pada akhirnya, ini kembali pada soal bakat—bakat yang dibentuk oleh pengalaman masa lalu, pola asuh, dan perjalanan emosional seseorang. Kita adalah hasil dari versi diri kita sebelumnya. Pengalaman itu bisa menjadi kekuatan, bisa pula menjadi beban, tergantung sejauh mana kita menyadarinya.
Jika bakat itu ada, ia bisa diperkuat. Jika belum ada, ia bisa dilatih—dengan waktu, kesabaran, dan kesadaran. Bahkan teori 10.000 jam pun menegaskan bahwa kapasitas tidak muncul secara instan.
Yang paling berbahaya bukanlah ketidakberbakatan, melainkan ketidaksadaran. Memaksa seseorang yang belum siap untuk menikah muda, dengan pengetahuan dan keterampilan relasi yang minim, tidak hanya berdampak pada dirinya, tetapi juga pada anak, keluarga besar, dan terutama keluarga inti.
Tidak semua orang berbakat dalam berpasangan dan berkeluarga. Itu adalah kenyataan.
Namun yang menentukan masa depan bukan bakat semata—melainkan keberanian untuk sadar, jujur, dan bertanggung jawab atas keputusan hidupnya sendiri.
0 Comments