Belajar sering kali menjadi kalimat klise—bukan hanya dijadikan tameng, tetapi seolah-olah sudah selesai dipahami. Padahal, jika dipikir ulang, apakah yang selama ini kita sebut belajar benar-benar sebuah proses memaknai kehidupan, atau hanya cara lain untuk merasa sudah mengerti?
Life long learner pun kerap dimaknai sempit, seolah-olah
mereka adalah orang-orang yang menghabiskan waktunya mengejar gelar formal S1,
S2, S3, dan seterusnya. Namun di sisi lain, bukankah pendidikan kehidupan yang
nyata justru jauh lebih kompleks untuk diresapi? Atau jangan-jangan, yang sulit
bukan pada akses belajarnya, tetapi pada cara kita memaknai apa yang sudah kita
alami?
Dalam konteks profesional, konsep Kolb’s learning
menjelaskan bahwa kehidupan berjalan dalam sebuah siklus: pengalaman,
pemaknaan, refleksi, lalu membentuk pola pikir dan perilaku. Sebuah siklus yang
terlihat sederhana, namun di titik ini saya mulai bertanya—apakah setiap orang
benar-benar melewati siklus itu secara utuh, atau hanya berhenti di pengalaman
tanpa pernah sampai pada refleksi?
Insight sendiri bisa datang dari mana saja, tergantung
bagaimana seseorang melihat kehidupan. Bagi seorang muslim, ayat pertama yang
turun adalah perintah untuk “membaca”. Menariknya, tidak dijelaskan apa yang
harus dibaca. Mungkin memang bukan objeknya yang penting, melainkan kesadaran
untuk membaca itu sendiri—membaca kehidupan, membaca keadaan, atau bahkan
membaca diri sendiri. Tapi di sisi lain, apakah kita benar-benar membaca, atau
hanya melihat apa yang ingin kita lihat?
Hal ini mengingatkan pada cerita sederhana seorang owner
perusahaan panci di daerah, yang terinspirasi dari etalase supermarket. Ia
tidak menghafal semua spesifikasi produk, tetapi menciptakan sistem penamaan
yang memudahkan orang memahami pola. Sebuah bentuk belajar yang tidak datang
dari teori, melainkan dari kepekaan melihat hal biasa. Namun di titik ini,
muncul pertanyaan lain—berapa banyak dari kita yang benar-benar peka, dan
berapa banyak yang sekadar lewat tanpa pernah menangkap makna?
Pembelajaran serupa juga saya temukan dalam sistem tarik di
manufaktur penyedia sparepart otomotif yang meniru mekanisme supermarket.
Barang yang keluar akan langsung tercatat sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi
kembali oleh gudang. Jika diperhatikan, saat pengiriman datang, jenisnya sangat
beragam—seolah-olah sistem itu “hidup” mengikuti kebutuhan. Dari sini terlihat
bahwa belajar tidak selalu harus rumit. Tapi sekali lagi, apakah kita melihat
ini sebagai pembelajaran, atau hanya sebagai rutinitas operasional biasa?
Di bidang lain, desain pesawat stealth terinspirasi dari
bentuk ikan pari yang secara alami mampu menghindari deteksi predator laut.
Adaptasi ini menjadi salah satu teknologi paling canggih dalam sistem
anti-radar. Alam memberikan contoh, manusia mengadopsinya. Namun yang jarang
disadari, apakah kita benar-benar belajar dari alam, atau hanya mengambil
sebagian kecil yang sesuai dengan kebutuhan kita?
Sebagai praktisi human capital di pabrik, saya pun mencoba
mengikuti apa yang relevan dengan kebutuhan bisnis. Tidak lagi memaksakan
sistem yang sepenuhnya bersifat sosial-dinamis ala psikologi, tetapi mulai
mengombinasikannya dengan pendekatan yang lebih terstruktur seperti di
manufaktur. Di satu sisi, ini terasa sebagai bentuk adaptasi. Tapi di sisi
lain, saya juga mulai bertanya—apakah ini benar-benar integrasi pengetahuan,
atau sekadar kompromi agar terlihat selaras?
Ironinya, tidak banyak orang yang benar-benar menyukai
proses belajar. Masalah sering dianggap sebagai benang ruwet yang harus
diselesaikan. Padahal, tidak semua masalah memang ditakdirkan untuk selesai. Di
sinilah konsep toleransi muncul—bukan sebagai solusi, tetapi sebagai cara
menerima bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dituntaskan. Namun pertanyaannya,
apakah kita menerima karena memahami, atau karena lelah mencoba?
Semakin seseorang mendalami ilmu, justru semakin terlihat
bahwa tidak ada yang benar-benar sempurna. Hampir semua teori, khususnya dalam
psikologi, selalu diakhiri dengan kritik, batasan, dan ruang untuk
penyempurnaan. Yang kadang luput dipahami, setiap teori lahir dari latar
belakang yang berbeda—pola asuh, pengalaman, hingga konteks sosial. Perbedaan
ini yang kemudian muncul sebagai kompleksitas. Tapi bisa jadi, yang kita anggap
kompleks hanyalah karena kita belum cukup memahami sudut pandang yang lain.
Mereka yang memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan
cenderung lebih mudah memahami berbagai perspektif, hingga membentuk dirinya
menjadi pembelajar yang adaptif—yang dalam psikologi disebut sebagai learning
agility. Sebuah kemampuan yang bahkan bisa diukur. Namun di titik ini,
muncul pertanyaan yang lebih mendasar—apakah kemampuan belajar benar-benar bisa
diukur, atau hanya disederhanakan agar terlihat terstruktur?
Mungkin setelah semua ini, yang tersisa bukanlah kesimpulan
yang utuh, melainkan ruang yang semakin luas untuk mempertanyakan
kembali—tentang apa yang kita anggap sebagai belajar. Karena bisa jadi, selama
ini kita tidak benar-benar belajar, melainkan hanya menyusun kenyamanan atas
apa yang ingin kita pahami. Dan kalau itu benar, maka barangkali yang perlu
diperbaiki bukan cara kita belajar saja, tetapi juga cara kita merasa sudah
belajar.
Dan jika masih terasa ada yang janggal dari semua ini,
mungkin memang di situlah letak belajarnya—bukan pada jawabannya, tetapi pada
keberanian untuk terus mempertanyakan apa yang sebelumnya kita anggap sudah
selesai.


0 Comments